Sesak di dada tak terkira
Ketika angan melayang ke tempat tak terduga
Sakitnya sukma mendera
Ketika takut menghempas tubuh tak berdaya
Diri tersendat merayap perlahan
Ketika sekelebat kesejukan menerpa
Wajah terpana menatap penuh asa
Ketika seberkas cahaya menyapa
Semua sesak, sakit itu mendadak sirna
Ketika tersadar Engkau di sana
Membelai, membujuk dengan senyum penuh cinta
Dalam kuasa-Mu yang tak terhingga
Jiwa ini semakin lega
Di saat kuberserah diri pada Zat yang Maha Esa
Bandung, 14 Oktober 2006
Ya Rabbi, kuserahkan segalanya pada-Mu…
Karena hanya Engkaulah yang maha tahu apa yang terbaik bagi alam semesta…
Pastinya sudah lama dan seringkali kita mendengar kalimat: “berserah dirilah pada Allah, manusia hanya bisa berusaha namun Allahlah yang menentukan hasilnya”. Pastinya juga banyak yang setuju dengan kalimat tersebut, termasuk gw. Siapa sih yang ga tau kekuasaan Allah yang tak terbatas. (Cuma tau lho, belum tentu percaya, ya kan…?) Sejak kita belajar agama (Islam, yang gw tau), itu termasuk yang pertama kali dikenalkan: kekuasaan Allah yang tak terbatas. Jika Allah menghendaki sesuatu tinggal berkata: “Kun fayakun” maka terjadilah apa yang dikehendaki-Nya.
Tapi ternyata buat gw, tidak mudah untuk melakukannya. Secara ga sadar ternyata belum mampu mencapai keberserahan diri yang sesungguhnya. Memang dalam do’a sih sering terucap kata itu, tapi benar tidaknya kita sudah melakukan yang sesungguhnya akan terlihat dari bagaimana kita memandang dan menjalani hidup ini.
Gw memang bukan ahli agama (Islam), jadi apa yang gw pikirkan dan rasakan mungkin benar-benar berada di tingkat paling bawah dari ilmu agama tersebut. Tapi ga ada salahnya kan gw share, siapa tahu ada yang mampir berkenan buat share balik ke gw. Menurut gw, orang yang sudah mampu berserah diri kepada Allah adalah jika orang tersebut paling tidak sudah tidak lagi merasakan berbagai ketakutan dalam hidupnya (takut kehilangan hartanya, orang yang disayanginya, jabatannya, dsb; takut menghadapi masa depan; takut kesepian; dsb) dan iri hati (iri terhadap rizki orang lain, jabatan orang lain, keberhasilan orang lain, dsb.). Kalau kita masih sering berpikir: “apa jadinya kita kalau orang yang kita sayangi meninggalkan kita?” atau “bagaimana jadinya kita kalau besok-besok sudah tidak menjadi kepala bagian lagi?” atau “bagaimana anak-anak kalau kita tidak bisa mendampingi mereka lagi?” atau “kenapa dia bisa memenuhi segala keinginannya secara materi sementara kita tidak” atau “betapa enaknya dia karena diberi kemampuan untuk melakukan banyak hal sementara kita tidak” dst…. Maka belumlah kita menjadi salah satu orang yang berserah diri kepada Allah.
Padahal perlu diingat, yang namanya hidup, mati, dan rizki orang ditentukan oleh Allah. Ee…bukan berarti kita jadi ga berusaha ya, yang namanya usaha itu mah wajib sifatnya. Paling ga dengan berusaha, Allah tahu kita bersungguh-sungguh untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Hanya jangan terbebani oleh hasilnya nanti, berhasil atau tidak Allah yang berkuasa untuk menentukannya. Jadi, bismillah aja deh setiap kali kita berusaha ya…. InsyaAllah, kalau memang itu sudah bagian kita, ga akan lari kemana kok.
Penyebab kita masih belum bisa berserah diri itu biasanya adalah ketidakpercayaan kita akan keberadaan Allah yang memiki kuasa penuh tersebut. Kadang-kadang kita juga tidak menyadarinya. Di mulut kita mungkin berkata: “percaya…percaya kok..”. Tapi kalau ternyata masih juga sering berpikiran seperti di atas….wah…ga janji ‘percaya’ itu ada di hati kita yang paling dalam.
Yang tidak kita sadari bahwa keadaan tidak berserah diri (kepada Allah tentunya), ternyata tidak hanya merusak mental kita saja, tetapi juga fisik kita. Orang bilang, banyak orang yang sakit dan sulit untuk sembuh karena hal tersebut. Kalaupun sembuh, penyakit tersebut tidak hilang seratus persen, kadang-kadang kambuh lagi atau menjadi penyakit yang lain. Untuk orang yang sehat, keadaan berserah diri membuat orang tersebut jadi jarang dihinggapi penyakit. Ya kalau sekali-sekali merasakan penyakit yang ringan seperti batuk pilek, pusing, sakit perut; itu mah biasa. Kadang-kadang tubuh juga perlu mengingatkan diri kita agar tidak memforsir tubuh terus-terusan, artinya pada saat itu tubuh perlu beristirahat untuk sementara waktu.
Siapa sih yang tidak ingin sehat selalu? (pasti ga ada yang ngacung) Nah, karena itu perlu deh kayaknya dicoba untuk ga berpikiran seperti di atas. Jangan salah, gw juga masih suka berpikiran seperti itu, walaupun sudah mulai menurun intensitasnya. Jadi tulisan ini sebenarnya dibuat ga bermaksud buat ‘ngajarin’ siapapun yang sempet mampir. Melainkan lebih pada mengingatkan diri sendiri (kalo lagi lupa kan bisa baca2 lagi, gitchu….). Tapi mudah-mudahan juga bisa bermanfaat bagi siapa saja yang berkenan membacanya.
Sunday, October 15, 2006
Monday, October 09, 2006
Cerita Lagi
Baru hari ini sempet update lagi. Kemaren-kemaren memang sedang agak males nulis & curhat. Kebetulan lagi ada laporan yang musti diselesaikan. Juga mungkin karena pagi mulai sering ke kampus, sore 'ngabuburit', dan malem keburu ngantuk (entah kenapa, abis buka bawaannya nguap melulu). Siang ini mustinya ke kampus (jadwal ke kampus: senin, rabu, jumat), tapi karena badan lagi terasa kurang fit (tadi malem 'salah makan', jd sempet lemes dan kepala agak berat, tapi waktu saur udah baikan) dan suami sedang kena radang tenggorokan jadi ga ngantor ke jakarta; gw batal ke kampus. Seharian nyelesain laporan dan online browsing sana-sini.
Sebenarnya sejak puasa, Alhamdulillah, kondisi badan sudah lebih baik. Tiga hari ini tamat puasa, hari ini saja ga puasa karena ngerasa kurang fit. Sedih juga sih masih 'salah makan', tapi menurut terapis gw memang seperti itu caranya, harus ada trial & error. Dengan peristiwa 'salah makan', tubuh akan bereaksi untuk mengatasinya, jadi enzim & hormon yang tadinya tidak diproduksi untuk mengolah makanan tadi, dipaksa diproduksi. Kalo 'salah makan' hanya menyebabkan kembung, sedikit mencret, atau sedikit pusing sih ga masalah. Biasanya pemulihannya juga cepat, paling 1-2 jam sudah fit lagi. Tapi kalo sampai lemes kayak tadi malem (sebelum ini peristiwa terakhir 'salah makan' karena makan kentang goreng A&W, mungkin minyak gorengnya ga bagus), cukup lama juga pemulihannya.
PS: Tulisan di atas ditulis beberapa hari lalu, dan ngedon di 'draft'.
***
(Tulisan ini kemudian diselesaikan...mmm...ditambah karena comment zilko, thanks zilko mengingatkan buat update lagi!)
Hari ini hari ke 20 puasa. Setelah 2 hari kemarin ga puasa (selasa sempet puasa, tapi sore perut melilit, malemnya ngrasa kurang fit), alhamdulillah hari ini bisa puasa lagi. Lumayan fit sejak pagi (mungkin karena tadi pagi tusuk jarum atau badan sudah lebih sehat...semoga yang kedua. Amin), tadi siang ke kantor sebentar trus jalan dengan teman-teman di ibcc sekitar 1 jam sambil menunggu anak selesai bimbingan tes. Kemarin adalah hari pertama gw tidak tusuk jarum. Sempet tekor juga stamina walaupun ga puasa. Tapi hebatnya ada dua aktivitas keluar rumah yang bisa gw lakukan. Pagi sampe makan siang mengikuti semiloka di sesko, trus sore ambil raport Sasha (anak pertama gw) dilanjutkan buka bersama di Panghegar. Sepulang dari sesko, sempet trasa cape dan agak pusing. Tapi, alhamdulillah setelah istirahat sebentar (tidur selama 1 jam) pusingnya hilang. Badan memang sempet agak lemes sewaktu bangun tidur, tapi menjelang berangkat ke Panghegar udah membaik.
Tadinya gw pikir, terapis gw bakalan ngijinin buat mengurangi intensitas tusuk jarum setelah mendengar pengalaman gw kemarin yang oke-oke aja tanpa tusuk jarum. Tp ternyata dia masih belum setuju hal tsb, dia bilang sampe rabu depan baru bisa dikurangi intensitasnya karena sekarang sedang pengobatan produksi enzim (& hormon?) secara intensif. Mungkin untuk persiapan lebaran ya, biar gw ga gigit jari ngliatin orang lain pada keenakan makan kue lebaran, tapi gw bisa gabung mereka menikmati kue-kue itu...mmm...kalo iya sih dengan senang hati dilanjutkan tusuk jarum setiap hari sampe rabu depan.
Gw memang ga konsultasi dulu ke terapis gw kalo kemarin ga tusuk jarum. Sebenernya ga disengaja juga, kebetulan ga ada yang bisa antar gw tusuk jarum kemarin pagi. Sopir gw kan musti nganter anak-anak sekolah, suami ke Jakarta, sopir Mamih pulang kampung (istrinya keguguran...semoga cepat pulih dan bisa hamil lagi dengan sehat...Amin); sementara gw belum brani nyetir sendiri. Tadinya kalo badan trasa ga enak, bisa tusuk jarumnya siang (ke Jl. Pungkur) atau malamnya. Tapi berhubung ngrasa oke-oke aja, ya bablas sampe tadi pagi. Lagipula, gw pikir buat persiapan mudik ke Solo (kampung suami) dimana selama seminggu gw bakalan absen tusuk jarum. Jadi dari sekarang dilatih ga setiap hari tusuk jarum biar ga kaget nantinya.
Eh, kayaknya dah adzan magrib tuh. Alhamdulillah....gw buka dulu ya.....
***
Bosen ya, baca tentang gw yang lagi pengobatan tusuk jarum melulu? Iya deh, sekarang gw punya beberapa cerita tentang hal lain. Masih berhubungan dengan gw juga tapi ga ada hubungannya dengan tusuk jarum.
Pertama, tentang perbedaan anak-anak dan orang dewasa (dalam cerita ini, orang tuanya) memandang suatu hal. Kemarin sore ketika menghadiri pembagian raport Sasha di Panghegar, gw melihat ada perbedaan pandangan antara anak-anak dengan orangtuanya terhadap hasil belajar mereka yang tercantum di raport (Sasha di kelas akselerasi, jadi kemarin dia & teman-temannya naik ke kelas 6. Tahun depan sudah bisa ke SMP, kalo kelas reguler tahun 2008 baru bisa ke SMP). Bagi si anak, berapapun jumlah hasil belajar mereka tidak membuat mereka menjadi malu (bagi yang hasilnya lebih kecil) atau besar kepala (bagi yang hasilnya lebih besar). Bagi mereka yang terpenting adalah mereka semua naik kelas dan bersenang-senang karena bisa 'merayakan' kenaikan kelas itu di sebuah ruangan yang cukup besar dan bagus di sebuah hotel berbintang 5. Itu terlihat dari dengan ringannya mereka menyebutkan berapa jumlah nilai raport mereka sambil tertawa-tawa riang dan saling bercanda. Sementara bagi sebagian (besar? Mungkin, yang pasti gw ga ngrasa...) orangtua, jumlah nilai raport itu menjadi hal yang penting, sehingga ada beberapa dari mereka yang tadinya tidak mau memberitahukan berapa jumlah raport anaknya kepada orang lain (termasuk kepada anaknya, karena tahu anaknya pasti dengan gembira akan memberitahukan kepada orang lain). Kemudian sebagian (besar.. atau semua? Kalau yang ini terus terang gw juga brasa, walau ga separah yang lain) saling membandingkan hasil nilai raport tersebut. Gw tidak secara langsung membandingkan seperti..."o.... si anu naik pesat ya, sementara si anu turun" atau "Berarti yang menjadi rangking 1 sekarang si anu ya, si anu jadi rangking 3" atau "kenapa ya si anu bisa naik sepesat itu, sementara anakku malah turun nih" atau "nak, coba lihat si anu, hebat kan bisa naik banyak nilainya. Makanya kamu harus rajin belajarnya supaya bisa seperti dia" dsb. Tapi, gw juga sempet bertanya (lewat Sasha) hasil raport beberapa temannya (teman2 sebimbingan tes). Gw sendiri berpikir bahwa seorang anak itu tidak bisa dibanding-bandingkan dengan orang lain dalam hal hasil nilai di raport. Yang bisa dibandingkan adalah hasil nilai raport si anak sekarang dengan yang sebelumnya. Alhamdulillah, hasil nilai raport Sasha meningkat dibandingkan sebelumnya. Itu sudah cukup memperlihatkan keberhasilannya dalam belajar kali ini. Semoga engkau tidak hanya diberikan kepandaian dalam ilmu pengetahuan saja, anakku, tetapi juga diberikan kepandaian spiritual, serta mengamalkan keduanya dalam kehidupanmu sehingga dirimu menjadi orang yang berguna bagi dirimu, orang-orang di sekitarmu, dan alam semesta ini. Amin.
Kedua, tentang puasa dan menggunjingkan orang lain. Nah, masalah ini termasuk yang sulit untuk dihindarkan. Untuk benar-benar menghindarkan diri sendiri menggunjingkan orang lain saja sulit bagaimana untuk menghindarkan orang lain berbuat sama? Hari ini saja seingat gw paling tidak sekali gw menggunjingkan orang lain (membicarakan kejelekan maksudnya, kalau kebaikan orang lain kan tidak termasuk menggunjingkan). Walaupun tidak berkepanjangan (kebetulan ketika gw baru membicarakan hal ini, gw sudah harus berpisah dengan lawan bicara, mungkin ini 'pertolongan' dari Allah, agar gw ga keterusan bergunjing), tapi gw nyesel sekali (ampuni hamba-Mu ini ya Allah). Sampai-sampai gw bermaksud buat meminta maaf langsung pada yang bersangkutan (sampai sekarang belum kesampaian, gw sungkan karena sudah lama ga kontak, mungkin lebaran nanti moment yang tepat...?). Trus, paling tidak gw mendengarkan dua orang (di kesempatan yang berbeda) menggunjingkan orang lain (ya Allah, ampuni lagi hamba-Mu ini). Sedihnya gw ga mampu untuk menghentikan atau meninggalkan pembicaraan pada saat itu. Memang gw ga berkomentar apa-apa, paling hanya..."masa sih.." atau "o...begitu ya.." dst. Tapi kan telinga ini mendengarkan yang seharusnya tidak didengarkan. Padahal isi dari gunjingan itu, buat gw ga penting banget. Kalaupun benar orang yang digunjingkan seperti itu, apa yang bisa kita perbuat pada saat itu coba? Menggunjingkan? Ih... ga oke banget deh. Kalau memang kita tidak mampu berbuat apa-apa untuk membuat dia menjadi 'baik' (dalam pandangan kita), ya... paling tidak do'akan saja semoga dia bisa berubah tanpa menggunjingkannya. Apalagi sekarang bulan puasa, sepertinya lebih baik mendengarkan Opick bernyanyi..."laa illaha ilallah....4X" atau Armand Gigi bersenandung "ada sajadah panjang terbentang....". Astaghfirullah...3X
Cukup dulu dua cerita 'yang lain' buat hari ini.....
Sebenarnya sejak puasa, Alhamdulillah, kondisi badan sudah lebih baik. Tiga hari ini tamat puasa, hari ini saja ga puasa karena ngerasa kurang fit. Sedih juga sih masih 'salah makan', tapi menurut terapis gw memang seperti itu caranya, harus ada trial & error. Dengan peristiwa 'salah makan', tubuh akan bereaksi untuk mengatasinya, jadi enzim & hormon yang tadinya tidak diproduksi untuk mengolah makanan tadi, dipaksa diproduksi. Kalo 'salah makan' hanya menyebabkan kembung, sedikit mencret, atau sedikit pusing sih ga masalah. Biasanya pemulihannya juga cepat, paling 1-2 jam sudah fit lagi. Tapi kalo sampai lemes kayak tadi malem (sebelum ini peristiwa terakhir 'salah makan' karena makan kentang goreng A&W, mungkin minyak gorengnya ga bagus), cukup lama juga pemulihannya.
PS: Tulisan di atas ditulis beberapa hari lalu, dan ngedon di 'draft'.
***
(Tulisan ini kemudian diselesaikan...mmm...ditambah karena comment zilko, thanks zilko mengingatkan buat update lagi!)
Hari ini hari ke 20 puasa. Setelah 2 hari kemarin ga puasa (selasa sempet puasa, tapi sore perut melilit, malemnya ngrasa kurang fit), alhamdulillah hari ini bisa puasa lagi. Lumayan fit sejak pagi (mungkin karena tadi pagi tusuk jarum atau badan sudah lebih sehat...semoga yang kedua. Amin), tadi siang ke kantor sebentar trus jalan dengan teman-teman di ibcc sekitar 1 jam sambil menunggu anak selesai bimbingan tes. Kemarin adalah hari pertama gw tidak tusuk jarum. Sempet tekor juga stamina walaupun ga puasa. Tapi hebatnya ada dua aktivitas keluar rumah yang bisa gw lakukan. Pagi sampe makan siang mengikuti semiloka di sesko, trus sore ambil raport Sasha (anak pertama gw) dilanjutkan buka bersama di Panghegar. Sepulang dari sesko, sempet trasa cape dan agak pusing. Tapi, alhamdulillah setelah istirahat sebentar (tidur selama 1 jam) pusingnya hilang. Badan memang sempet agak lemes sewaktu bangun tidur, tapi menjelang berangkat ke Panghegar udah membaik.
Tadinya gw pikir, terapis gw bakalan ngijinin buat mengurangi intensitas tusuk jarum setelah mendengar pengalaman gw kemarin yang oke-oke aja tanpa tusuk jarum. Tp ternyata dia masih belum setuju hal tsb, dia bilang sampe rabu depan baru bisa dikurangi intensitasnya karena sekarang sedang pengobatan produksi enzim (& hormon?) secara intensif. Mungkin untuk persiapan lebaran ya, biar gw ga gigit jari ngliatin orang lain pada keenakan makan kue lebaran, tapi gw bisa gabung mereka menikmati kue-kue itu...mmm...kalo iya sih dengan senang hati dilanjutkan tusuk jarum setiap hari sampe rabu depan.
Gw memang ga konsultasi dulu ke terapis gw kalo kemarin ga tusuk jarum. Sebenernya ga disengaja juga, kebetulan ga ada yang bisa antar gw tusuk jarum kemarin pagi. Sopir gw kan musti nganter anak-anak sekolah, suami ke Jakarta, sopir Mamih pulang kampung (istrinya keguguran...semoga cepat pulih dan bisa hamil lagi dengan sehat...Amin); sementara gw belum brani nyetir sendiri. Tadinya kalo badan trasa ga enak, bisa tusuk jarumnya siang (ke Jl. Pungkur) atau malamnya. Tapi berhubung ngrasa oke-oke aja, ya bablas sampe tadi pagi. Lagipula, gw pikir buat persiapan mudik ke Solo (kampung suami) dimana selama seminggu gw bakalan absen tusuk jarum. Jadi dari sekarang dilatih ga setiap hari tusuk jarum biar ga kaget nantinya.
Eh, kayaknya dah adzan magrib tuh. Alhamdulillah....gw buka dulu ya.....
***
Bosen ya, baca tentang gw yang lagi pengobatan tusuk jarum melulu? Iya deh, sekarang gw punya beberapa cerita tentang hal lain. Masih berhubungan dengan gw juga tapi ga ada hubungannya dengan tusuk jarum.
Pertama, tentang perbedaan anak-anak dan orang dewasa (dalam cerita ini, orang tuanya) memandang suatu hal. Kemarin sore ketika menghadiri pembagian raport Sasha di Panghegar, gw melihat ada perbedaan pandangan antara anak-anak dengan orangtuanya terhadap hasil belajar mereka yang tercantum di raport (Sasha di kelas akselerasi, jadi kemarin dia & teman-temannya naik ke kelas 6. Tahun depan sudah bisa ke SMP, kalo kelas reguler tahun 2008 baru bisa ke SMP). Bagi si anak, berapapun jumlah hasil belajar mereka tidak membuat mereka menjadi malu (bagi yang hasilnya lebih kecil) atau besar kepala (bagi yang hasilnya lebih besar). Bagi mereka yang terpenting adalah mereka semua naik kelas dan bersenang-senang karena bisa 'merayakan' kenaikan kelas itu di sebuah ruangan yang cukup besar dan bagus di sebuah hotel berbintang 5. Itu terlihat dari dengan ringannya mereka menyebutkan berapa jumlah nilai raport mereka sambil tertawa-tawa riang dan saling bercanda. Sementara bagi sebagian (besar? Mungkin, yang pasti gw ga ngrasa...) orangtua, jumlah nilai raport itu menjadi hal yang penting, sehingga ada beberapa dari mereka yang tadinya tidak mau memberitahukan berapa jumlah raport anaknya kepada orang lain (termasuk kepada anaknya, karena tahu anaknya pasti dengan gembira akan memberitahukan kepada orang lain). Kemudian sebagian (besar.. atau semua? Kalau yang ini terus terang gw juga brasa, walau ga separah yang lain) saling membandingkan hasil nilai raport tersebut. Gw tidak secara langsung membandingkan seperti..."o.... si anu naik pesat ya, sementara si anu turun" atau "Berarti yang menjadi rangking 1 sekarang si anu ya, si anu jadi rangking 3" atau "kenapa ya si anu bisa naik sepesat itu, sementara anakku malah turun nih" atau "nak, coba lihat si anu, hebat kan bisa naik banyak nilainya. Makanya kamu harus rajin belajarnya supaya bisa seperti dia" dsb. Tapi, gw juga sempet bertanya (lewat Sasha) hasil raport beberapa temannya (teman2 sebimbingan tes). Gw sendiri berpikir bahwa seorang anak itu tidak bisa dibanding-bandingkan dengan orang lain dalam hal hasil nilai di raport. Yang bisa dibandingkan adalah hasil nilai raport si anak sekarang dengan yang sebelumnya. Alhamdulillah, hasil nilai raport Sasha meningkat dibandingkan sebelumnya. Itu sudah cukup memperlihatkan keberhasilannya dalam belajar kali ini. Semoga engkau tidak hanya diberikan kepandaian dalam ilmu pengetahuan saja, anakku, tetapi juga diberikan kepandaian spiritual, serta mengamalkan keduanya dalam kehidupanmu sehingga dirimu menjadi orang yang berguna bagi dirimu, orang-orang di sekitarmu, dan alam semesta ini. Amin.
Kedua, tentang puasa dan menggunjingkan orang lain. Nah, masalah ini termasuk yang sulit untuk dihindarkan. Untuk benar-benar menghindarkan diri sendiri menggunjingkan orang lain saja sulit bagaimana untuk menghindarkan orang lain berbuat sama? Hari ini saja seingat gw paling tidak sekali gw menggunjingkan orang lain (membicarakan kejelekan maksudnya, kalau kebaikan orang lain kan tidak termasuk menggunjingkan). Walaupun tidak berkepanjangan (kebetulan ketika gw baru membicarakan hal ini, gw sudah harus berpisah dengan lawan bicara, mungkin ini 'pertolongan' dari Allah, agar gw ga keterusan bergunjing), tapi gw nyesel sekali (ampuni hamba-Mu ini ya Allah). Sampai-sampai gw bermaksud buat meminta maaf langsung pada yang bersangkutan (sampai sekarang belum kesampaian, gw sungkan karena sudah lama ga kontak, mungkin lebaran nanti moment yang tepat...?). Trus, paling tidak gw mendengarkan dua orang (di kesempatan yang berbeda) menggunjingkan orang lain (ya Allah, ampuni lagi hamba-Mu ini). Sedihnya gw ga mampu untuk menghentikan atau meninggalkan pembicaraan pada saat itu. Memang gw ga berkomentar apa-apa, paling hanya..."masa sih.." atau "o...begitu ya.." dst. Tapi kan telinga ini mendengarkan yang seharusnya tidak didengarkan. Padahal isi dari gunjingan itu, buat gw ga penting banget. Kalaupun benar orang yang digunjingkan seperti itu, apa yang bisa kita perbuat pada saat itu coba? Menggunjingkan? Ih... ga oke banget deh. Kalau memang kita tidak mampu berbuat apa-apa untuk membuat dia menjadi 'baik' (dalam pandangan kita), ya... paling tidak do'akan saja semoga dia bisa berubah tanpa menggunjingkannya. Apalagi sekarang bulan puasa, sepertinya lebih baik mendengarkan Opick bernyanyi..."laa illaha ilallah....4X" atau Armand Gigi bersenandung "ada sajadah panjang terbentang....". Astaghfirullah...3X
Cukup dulu dua cerita 'yang lain' buat hari ini.....
Monday, September 25, 2006
Marhaban Yaa Ramadhan...
Beberapa hari yang lalu, sebelum puasa, gw sempat berpikir (dengan sedikit sedih): "ramadhan ini bakalan ga serasa ramadhan." Kenapa? Melihat kondisi gw yang masih harus sering 'ngemil', rasanya ga mungkin ikut berpuasa. Dan membayangkan itu, gw jadi kurang bersemangat menyambut bulan suci penuh berkah ini. Mamih (ibu tercinta) menghibur: "Kamu masih bisa melakukan ibadah lain di bulan ramadhan. Bahkan berbuat ramah dan baik kepada orang, banyak terseyum, banyak bersyukur, banyak bersabar; itu juga ibadah." Selain menyebutkan tarawih, baca qur'an, baca buku keislaman, sholat berjamaah, sholat-sholat sunat, dsb. Walaupun masih dengan perasaan hampa, gw meng-iyakan beliau.
Tapi tau ga? (Ya ga lah, kan baru mau dikasih tau) Hari pertama puasa, Alhamdulillah, gw melalui dengan hati lega, bahagia, senang, dan bersemangat. Gw bisa berpuasa sampai beduk magrib tiba! Rupanya niat yang kuat, dukungan orang-orang terdekat, dan ga kalah pentingnya: tusuk jarum, membuat gw bisa berpuasa. Sehari sebelumnya, gw sempat berkonsultasi dengan akupungturis gw, dan beliau meyakinkan bahwa gw mampu berpuasa. Semoga untuk hari-hari selanjutnya gw semakin ringan menjalankan ibadah puasa tersebut. Amin.
Kegiatan tusuk jarum yang masih gw jalani setiap hari, pindah jadwal dari malam hari ke pagi hari. Jadi rutinitas pagi hari setelah saur dan sholat subuh adalah terapi ke kawasan Cimahi. Nah, seperti banyak orang bilang bahwa Ramadhan merupakan bulan penuh berkah; di saat terapi yang berlangsung setelah subuh itu pun berkah itu telah terasa. Mungkin hal yang sepele, tapi cukup membuat gw bersyukur. Gw jadi ga perlu repot-repot membawa perbekalan buat makan. Terapi di pagi hari juga membuat tubuh lebih segar dalam menjalani berbagai aktivitas di hari tersebut. Kalau hari pertama sempat diwarnai oleh agak lemes dan agak berat kepalanya. Wajarlah. Namanya juga hari pertama. Tubuh sedang beradaptasi. Jangankan yang sedang menjalani terapi seperti gw, orang yang sehat juga merasakan hal yang sama: agak lemes (at least my dear love husband felt it). Semakin siang, badan semakin enak, lemesnya hilang dan berat di kepala banyak berkurang. Jadilah sore harinya, gw beserta suami dan anak sulung gw (yang bungsu sedang agak demam, radang tenggorokan. Tusuk jarum juga deh) 'ngabuburit'.
Sekarang, hari kedua puasa, yang baru sampai jam 9.30an pagi; sedang gw jalani. Alhamdulillah lebih baik dari kemarin. Ga terlalu lemes dan kepala lebih ringan. Rencananya siang nanti gw mau ke kantor sebentar. Ah, rasanya semakin mantap dan bersemangat menjalani ibadah di bulan ramadhan ini. Semoga Allah senantiasa melimpahkan maghfiroh dan berkahnya kepada kita. Amin. Marhaban Yaa Ramadhan...
PS: Walau telat, mohon maafkan segala kesalahan lahir dan batin dan selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankannya.
Tapi tau ga? (Ya ga lah, kan baru mau dikasih tau) Hari pertama puasa, Alhamdulillah, gw melalui dengan hati lega, bahagia, senang, dan bersemangat. Gw bisa berpuasa sampai beduk magrib tiba! Rupanya niat yang kuat, dukungan orang-orang terdekat, dan ga kalah pentingnya: tusuk jarum, membuat gw bisa berpuasa. Sehari sebelumnya, gw sempat berkonsultasi dengan akupungturis gw, dan beliau meyakinkan bahwa gw mampu berpuasa. Semoga untuk hari-hari selanjutnya gw semakin ringan menjalankan ibadah puasa tersebut. Amin.
Kegiatan tusuk jarum yang masih gw jalani setiap hari, pindah jadwal dari malam hari ke pagi hari. Jadi rutinitas pagi hari setelah saur dan sholat subuh adalah terapi ke kawasan Cimahi. Nah, seperti banyak orang bilang bahwa Ramadhan merupakan bulan penuh berkah; di saat terapi yang berlangsung setelah subuh itu pun berkah itu telah terasa. Mungkin hal yang sepele, tapi cukup membuat gw bersyukur. Gw jadi ga perlu repot-repot membawa perbekalan buat makan. Terapi di pagi hari juga membuat tubuh lebih segar dalam menjalani berbagai aktivitas di hari tersebut. Kalau hari pertama sempat diwarnai oleh agak lemes dan agak berat kepalanya. Wajarlah. Namanya juga hari pertama. Tubuh sedang beradaptasi. Jangankan yang sedang menjalani terapi seperti gw, orang yang sehat juga merasakan hal yang sama: agak lemes (at least my dear love husband felt it). Semakin siang, badan semakin enak, lemesnya hilang dan berat di kepala banyak berkurang. Jadilah sore harinya, gw beserta suami dan anak sulung gw (yang bungsu sedang agak demam, radang tenggorokan. Tusuk jarum juga deh) 'ngabuburit'.
Sekarang, hari kedua puasa, yang baru sampai jam 9.30an pagi; sedang gw jalani. Alhamdulillah lebih baik dari kemarin. Ga terlalu lemes dan kepala lebih ringan. Rencananya siang nanti gw mau ke kantor sebentar. Ah, rasanya semakin mantap dan bersemangat menjalani ibadah di bulan ramadhan ini. Semoga Allah senantiasa melimpahkan maghfiroh dan berkahnya kepada kita. Amin. Marhaban Yaa Ramadhan...
PS: Walau telat, mohon maafkan segala kesalahan lahir dan batin dan selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankannya.
Friday, September 22, 2006
When something 'new' greets my life
Kemarin adalah salah satu hari yang turut berperan untuk 'melahirkan' diri gw yang 'baru'. Ketika kondisi tubuh menurun (sementara saja, ngga separah waktu makan sop buntut, karena makan sesuatu lagi yang masih belum 'familiar' dengan perut gw), berbagai ketakutan mulai berdatangan. Seperti apa dan dalam bentuk apa, agak sulit diceritakan, tapi yang pasti membuat tidak nyaman. Setelah beristirahat beberapa saat, dalam keadaan masih agak lemes, gw menghampiri suami tercinta yang sedang bekerja di balik laptopnya di kamar kerja kami. Dengan sedikit bercanda, gw sedikit berkeluh kesah tentang ketidaknyamanan itu. Dan terdengarlah beberapa 'kalimat pencerahan' itu, kemudian gw digiring untuk membaca dua tulisan yang berhubungan dengan itu (yang berminat membaca tulisan tersebut silakan ke fauzirachmanto.blogspot.com).
Kemudian, tiba-tiba saja gw bisa 'let go' salah satu (atau satu-satunya? entahlah) beban 'ketakukan' terbesar gw. Entah karena itu (sepertinya iya) atau memang tubuh sudah berhasil recovery; tubuh menjadi lebih segar, kepala menjadi lebih ringan, bahkan panas dalam yang beberapa hari ini sedang terasa menjadi hilang (tapi masih suka terasa sampai sekarang, hanya tidak seberat kemarin-kemarin). Beberapa 'point' yang begitu 'menyejukkan' sukma adalah:
Kemudian, tiba-tiba saja gw bisa 'let go' salah satu (atau satu-satunya? entahlah) beban 'ketakukan' terbesar gw. Entah karena itu (sepertinya iya) atau memang tubuh sudah berhasil recovery; tubuh menjadi lebih segar, kepala menjadi lebih ringan, bahkan panas dalam yang beberapa hari ini sedang terasa menjadi hilang (tapi masih suka terasa sampai sekarang, hanya tidak seberat kemarin-kemarin). Beberapa 'point' yang begitu 'menyejukkan' sukma adalah:
- fokuslah pada kekinian (sekarang), jangan terhanyut pada masa lalu maupun menggelisahkan masa depan.
- setiap orang pasti berbuat kesalahan, belajarlah memaafkan diri sendiri seperti juga memaafkan orang lain.
- Jangan menilai sesuatu itu sebagai untung atau rugi, karena kita tidak tahu segala sesuatu yang menimpa kita itu menguntungkan atau merugikan kita, walaupun itu kelihatannya buruk di mata kita.
- Percayalah Tuhan YME, telah dengan sempurna mengatur segalanya untuk kita, yang pasti itu terbaik untuk semuanya (untuk kita, orang yang kita cintai, bahkan alam semesta).
Terima kasih, Tuhan. Engkau telah mengirimkan dia kepadaku...
Monday, September 18, 2006
Abis Kambuh...
Hari senin ini, gw di rumah aja kayaknya. Sedang pemulihan dari kambuh lemes dan pusingnya kemarin siang. Yang bikin sebel, penyebabnya adalah sop buntut yang lezat itu. Tapi memang dari semalem sebelumnya, perut gw sedang berasa panas dan agak perih. Paginya ga se fit biasanya (mungkin perut panas & perih itu lg proses penyembuhan, perlu energi yang cukup banyak, jadi paginya ga terlalu fit). Siangnya sebelum makan siang, sempet jalan-jalan ke IP (Istana Plaza). Kebetulan kakak ipar gw dari Sragen dateng, jadi sekalian ngajak jalan dan cari oleh-oleh buat anaknya. Makan siang di The Taste (ini tempat favorit keluarga gw di IP) yang memang enak sop buntutnya. Sempet ragu juga soalnya gw lagi kepengen ayam bakar juga (kalo yang ini kayaknya ga bikin kambuh, soalnya ga terlalu berlemak dan berkolesterol kayak sop buntut). Ya, pengalaman deh. Lain kali kalo mau coba-coba makanan, musti badan lagi fit dan jangan terlalu banyak dulu (mungkin 1/4 porsi dulu, gitu), kemarin sih langsung sok gagah minta seporsi.
Terapis gw, cuma tersenyum waktu semalam gw cerita tentang kambuh gara-gara sop buntut. Dia bilang ga apa-apa sekali-sekali makan sop buntut, tapi karena perut gw masih belum sembuh benar (jadinya sensitif sekali ya? Apa orang lain yang bermasalah dengan pencernaan terutama maag juga seperti ini?) dan kebetulan juga lagi ga fit, ya kambuh deh. Memang ga cuma sekali itu gw kambuh gara-gara makanan yang belum bisa diterima perut gw. Kamis kemarin juga sempet agak lemes dan pusing (tapi ga separah kemarin), kayaknya gara-gara makan pepes tahu yang ternyata dicampur dengan telur (ini salah satu makanan yang belum bisa diterima perut gw, tapi kalau hanya putihnya saja dan jumlahnya sedikit, misalnya 1/2nya, paling hanya terasa agak kembung & pusing dikit). Tapi recoverynya cukup cepat, jam 1-an siang terasa, jam 3-4an sore dah lebih enakan nih badan. Kemarin yang cukup lama, jam 1-an siang terasa, baru magrib bisa bangun lama dari tempat tidur.
Sekarang sih, alhamdulillah udah lebih fit (walau belum se fit sebelum kambuh). Apalagi setelah tadi olahraga, jadi lebih seger deh. Terus, walaupun sempet sendirian di rumah (ada pembantu sih seorang, tapi kan ga bisa diajak ngobrol), tapi gw bisa chatting ama suami tercinta (sekarang lagi nengokin kerjaannya di Jakarta) dan sempet ngobrol sama Teh Dian (itu, yang sembuh meningitis dengan akupungtur). Makasih ya, Teh, mau ngobrol, padahal lagi sibuk nyiapin anak sekolah ya (maaf, ya Teh, abis kebelet pengen ngontak nih). And thanks alot darling, for your support that always come to me when I need it, even only chat with you, makes me feel more comfortable to face the day...
Terapis gw, cuma tersenyum waktu semalam gw cerita tentang kambuh gara-gara sop buntut. Dia bilang ga apa-apa sekali-sekali makan sop buntut, tapi karena perut gw masih belum sembuh benar (jadinya sensitif sekali ya? Apa orang lain yang bermasalah dengan pencernaan terutama maag juga seperti ini?) dan kebetulan juga lagi ga fit, ya kambuh deh. Memang ga cuma sekali itu gw kambuh gara-gara makanan yang belum bisa diterima perut gw. Kamis kemarin juga sempet agak lemes dan pusing (tapi ga separah kemarin), kayaknya gara-gara makan pepes tahu yang ternyata dicampur dengan telur (ini salah satu makanan yang belum bisa diterima perut gw, tapi kalau hanya putihnya saja dan jumlahnya sedikit, misalnya 1/2nya, paling hanya terasa agak kembung & pusing dikit). Tapi recoverynya cukup cepat, jam 1-an siang terasa, jam 3-4an sore dah lebih enakan nih badan. Kemarin yang cukup lama, jam 1-an siang terasa, baru magrib bisa bangun lama dari tempat tidur.
Sekarang sih, alhamdulillah udah lebih fit (walau belum se fit sebelum kambuh). Apalagi setelah tadi olahraga, jadi lebih seger deh. Terus, walaupun sempet sendirian di rumah (ada pembantu sih seorang, tapi kan ga bisa diajak ngobrol), tapi gw bisa chatting ama suami tercinta (sekarang lagi nengokin kerjaannya di Jakarta) dan sempet ngobrol sama Teh Dian (itu, yang sembuh meningitis dengan akupungtur). Makasih ya, Teh, mau ngobrol, padahal lagi sibuk nyiapin anak sekolah ya (maaf, ya Teh, abis kebelet pengen ngontak nih). And thanks alot darling, for your support that always come to me when I need it, even only chat with you, makes me feel more comfortable to face the day...
Saturday, September 16, 2006
Hari ke 36
Hari ini, hari ke 36 gw terapi akupungtur. Setiap malam sejak tanggal 12 Agustus lalu, gw meluncur ke Cimahi untuk menjalani terapi tersebut. Sehari sebelumnya (11 Agustus), maag gw kambuh terparah selama ini. Menurut adik ipar gw yang dokter, gw terkena sindrom meniere (awal dari vertigo?). Syaraf keseimbangan gw terganggu, gara-gara maag itu. Gw ngerasa dunia jadi goyang, seperti mau jatuh dan pingsan dan badan terasa lemas. Di saat gw ga tahan, gw sempet minta dibawa ke rumah sakit aja waktu itu. Tapi rupanya Tuhan tidak menghendaki itu, adik ipar gw keburu dateng dan memberikan beberapa obat untuk mengurangi gejala yang gw rasakan.
Keesokan harinya (12 Agustus), gw terbangun dengan badan yang masih lemes. Tiba-tiba gw teringat, sekitar satu setengah tahun yang lalu ada seorang rekan pengajar yang menyarankan untuk terapi akupungtur ketika tahu kalo gw punya maag. Terus gw juga inget rekan tersebut bercerita bahwa istri dari salah seorang rekan pengajar bisa sembuh dari meningitis (radang selaput otak) dengan terapi ini tanpa operasi. Atas dukungan suami, gw mengontak rekan pengajar tersebut yang pada waktu itu sedang berada di Surabaya. Beliau dengan senang hati memberikan alamat akupungturis yang sudah menyembuhkan istrinya. jadilah siang itu gw mulai ditusuk jarum. Pertama kali ditusuk, hasilnya sudah langsung terasa, lemesnya jauh berkurang.
Sampai saat ini, perkembangan kesehatan gw sudah cukup baik. Walaupun luka di alat pencernaan (ternyata tidak hanya lambung yang luka, tapi juga di usus 12 jari bertengger sariawan) masih ada (bisa dilihat dari masih adanya sariawan di mulut), tapi stamina sudah mulai meningkat. Gw sudah bisa olahraga (aerobik low impact sendiri di rumah) selama 45 menit hampir setiap hari dilakukan. Ke kantor juga sudah mulai dicoba, walaupun baru bisa sekitar 2 jam saja. Pusing dan lemesnya sudah jarang terasa; hanya perih dan panas di perut, kembung, radang di tenggorokan dan telinga masih suka terasa, dan makanan masih terbatas (bahkan makan kue marie pun belum bisa banyak, jadi suka pusing dan lemes).
Mudah-mudahan terapi yang sedang gw jalani berjalan dengan lancar dan berhasil, dan gw diberi kesabaran untuk menjalaninya (terapisnya bilang, untuk masalah pencernaan yaitu lambung dan usus memang agak lama). Dan tentunya bisa cepat sembuh. Amin.
Keesokan harinya (12 Agustus), gw terbangun dengan badan yang masih lemes. Tiba-tiba gw teringat, sekitar satu setengah tahun yang lalu ada seorang rekan pengajar yang menyarankan untuk terapi akupungtur ketika tahu kalo gw punya maag. Terus gw juga inget rekan tersebut bercerita bahwa istri dari salah seorang rekan pengajar bisa sembuh dari meningitis (radang selaput otak) dengan terapi ini tanpa operasi. Atas dukungan suami, gw mengontak rekan pengajar tersebut yang pada waktu itu sedang berada di Surabaya. Beliau dengan senang hati memberikan alamat akupungturis yang sudah menyembuhkan istrinya. jadilah siang itu gw mulai ditusuk jarum. Pertama kali ditusuk, hasilnya sudah langsung terasa, lemesnya jauh berkurang.
Sampai saat ini, perkembangan kesehatan gw sudah cukup baik. Walaupun luka di alat pencernaan (ternyata tidak hanya lambung yang luka, tapi juga di usus 12 jari bertengger sariawan) masih ada (bisa dilihat dari masih adanya sariawan di mulut), tapi stamina sudah mulai meningkat. Gw sudah bisa olahraga (aerobik low impact sendiri di rumah) selama 45 menit hampir setiap hari dilakukan. Ke kantor juga sudah mulai dicoba, walaupun baru bisa sekitar 2 jam saja. Pusing dan lemesnya sudah jarang terasa; hanya perih dan panas di perut, kembung, radang di tenggorokan dan telinga masih suka terasa, dan makanan masih terbatas (bahkan makan kue marie pun belum bisa banyak, jadi suka pusing dan lemes).
Mudah-mudahan terapi yang sedang gw jalani berjalan dengan lancar dan berhasil, dan gw diberi kesabaran untuk menjalaninya (terapisnya bilang, untuk masalah pencernaan yaitu lambung dan usus memang agak lama). Dan tentunya bisa cepat sembuh. Amin.
Ajakanmu, dulu dan sekarang
Kasih,
Ingatkah ketika kau tuliskan berbait kata untukku
Ketika kau merasa kuragu tuk menyambut uluran tanganmu yang mengajakmu menuju tempatmu
karena dirimu berada di tempat gersang dengan panas matahari membakar ubun-ubunmu
Yang menurutmu tanahnya penuh dengan kerikil dan batu sehingga melukai telapak kakimu
Sementara katamu aku berada di taman yang indah tanpa kesedihan di dalamnya
Yang katamu tanahnya dapat dengan mudah dilewati tanpa rintangan yang berarti
Kau tak yakin kumau berbagi suka dan duka yang menyertai hari-harimu
Kau tak yakin kumau memasrahkan hidupku di tempat gersang itu
Bahkan kau tuliskan kuhanya tersenyum atas ajakanmu
Itu lima belas tahun yang lalu
Kasih,
Ingatkah ketika lima tahun kemudian aku berjalan mendekatimu
Kaupun melangkah menghampiriku
Kita berada di antara dua tempat itu, tempat asalku dan tempat asalmu
Dan di sanalah kita bersatu, memadu janji untuk terus bersama mengarungi sedih bahagianya lautan kita berdua
Kita tidak berada di tempat asalmu, tidak pula di tempat asalku
Dan aku bahagia, ketika kau dengan perkasa membusungkan dada
“ku kan melindungimu, ku kan membahagiakanmu…”
Tapi sungguh ku tak tahu jalan apa yang akan kau tempuh tuk memenuhi janjimu itu
Sepuluh tahun yang lalu
Dan sekarang, Kasih…
Ketika kuterhenyak atas kata-katamu di malam itu
Aku memang meragu
Mampukah aku menyambut ajakanmu?
Bisakah aku sekuat dan sebaik dirimu?
Haruskan aku memasuki duniamu, untuk mendapatkan kembali kebersamaan kita seperti dulu?
Entahlah, Kasih…
Tak pernah kubermimpi berada dalam bimbang seperti ini
Bandung, 21 Desember 2005, 11:23
“If you want to join with my team, do as my way”
Maaf, Kasih jika aku belum mampu…
Ingatkah ketika kau tuliskan berbait kata untukku
Ketika kau merasa kuragu tuk menyambut uluran tanganmu yang mengajakmu menuju tempatmu
karena dirimu berada di tempat gersang dengan panas matahari membakar ubun-ubunmu
Yang menurutmu tanahnya penuh dengan kerikil dan batu sehingga melukai telapak kakimu
Sementara katamu aku berada di taman yang indah tanpa kesedihan di dalamnya
Yang katamu tanahnya dapat dengan mudah dilewati tanpa rintangan yang berarti
Kau tak yakin kumau berbagi suka dan duka yang menyertai hari-harimu
Kau tak yakin kumau memasrahkan hidupku di tempat gersang itu
Bahkan kau tuliskan kuhanya tersenyum atas ajakanmu
Itu lima belas tahun yang lalu
Kasih,
Ingatkah ketika lima tahun kemudian aku berjalan mendekatimu
Kaupun melangkah menghampiriku
Kita berada di antara dua tempat itu, tempat asalku dan tempat asalmu
Dan di sanalah kita bersatu, memadu janji untuk terus bersama mengarungi sedih bahagianya lautan kita berdua
Kita tidak berada di tempat asalmu, tidak pula di tempat asalku
Dan aku bahagia, ketika kau dengan perkasa membusungkan dada
“ku kan melindungimu, ku kan membahagiakanmu…”
Tapi sungguh ku tak tahu jalan apa yang akan kau tempuh tuk memenuhi janjimu itu
Sepuluh tahun yang lalu
Dan sekarang, Kasih…
Ketika kuterhenyak atas kata-katamu di malam itu
Aku memang meragu
Mampukah aku menyambut ajakanmu?
Bisakah aku sekuat dan sebaik dirimu?
Haruskan aku memasuki duniamu, untuk mendapatkan kembali kebersamaan kita seperti dulu?
Entahlah, Kasih…
Tak pernah kubermimpi berada dalam bimbang seperti ini
Bandung, 21 Desember 2005, 11:23
“If you want to join with my team, do as my way”
Maaf, Kasih jika aku belum mampu…
Malu
Saat terpandang wajah lelah menatap harap dari balik kaca
Teriris hati memikirkan banyak kesusahan yang menimpanya
Kucoba membayangkan ketegarannya menghadapi gelengan demi gelengan manusia
Yang terduduk nikmat dalam hembusan pendingin kendaraan mewahnya
Namun sejumput senyum masih sempat terlukis dari bibir hitamnya
Keletihan hanya diredakan oleh sekaan tangan sekilas untuk menyapu keringat di dahinya
Betapa malu hati ini, Tuhan
Seharusnya kubersyukur lebih banyak kepada-Mu
Atas semua berkah dan kasih sayang-Mu
Karena mungkin kesusahan yang kualami hanya seujung kuku dari yang dialaminya
Bandung, 20 Desember 2005, 11:08
Teriris hati memikirkan banyak kesusahan yang menimpanya
Kucoba membayangkan ketegarannya menghadapi gelengan demi gelengan manusia
Yang terduduk nikmat dalam hembusan pendingin kendaraan mewahnya
Namun sejumput senyum masih sempat terlukis dari bibir hitamnya
Keletihan hanya diredakan oleh sekaan tangan sekilas untuk menyapu keringat di dahinya
Betapa malu hati ini, Tuhan
Seharusnya kubersyukur lebih banyak kepada-Mu
Atas semua berkah dan kasih sayang-Mu
Karena mungkin kesusahan yang kualami hanya seujung kuku dari yang dialaminya
Bandung, 20 Desember 2005, 11:08
Tuesday, August 29, 2006
Benarkah Tuhan?
Dalam segala musim, Tuhan selalu Penyayang*
Benarkah?
Kuingin Tuhan hadir di hadapan
Agar dapat kudengar sebait jawaban
Atas pertanyaan yang demikian mendalam
Bandung, 17 Desember 2005, 09:20
*sebaris tulisan Habiburrahman ElShirazi dalam “Ayat-ayat Cinta”
Benarkah?
Kuingin Tuhan hadir di hadapan
Agar dapat kudengar sebait jawaban
Atas pertanyaan yang demikian mendalam
Bandung, 17 Desember 2005, 09:20
*sebaris tulisan Habiburrahman ElShirazi dalam “Ayat-ayat Cinta”
Subscribe to:
Posts (Atom)

